Kepada bayang-bayang keperakkan
Yang muncul dan menghilang
Yang bergerak mengikuti arah cahaya
Wahai bayang-bayang keperakkan
Apakah seseungguhnya kamu?
Tampakkanlah wujud nyatamu padaku.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Yang kadang kelabu dan kelam,
Suram bagai malam.
Seringkali kucari kau
Menyeberang Lautan perih
Mendaki gunungan derita
Namun biasanya sia-sia
Tanpa dapat bersua.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Yang kadang bersinar benderang,
Sebening kristal.
Seringkali kau muncul
Ketika aku menyerah dan tertidur
Ketika ku tenggelam dalam duka
Memacuku untuk bangkit dan berdiri
Kemudian menjalani nasib
Mencoba untuk mencarimu lagi.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Taukah kau,
Akan dambaku?
Akan mimpiku?
Akan hasratku?
Akan harapku?
Untuk bertemu.
Untuk merengkuhmu.
Untuk menyatu denganmu.
Untuk bersamamu.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Aku tahu
Bahwa kau adalah bayang-bayang
Tetap akan menjadi bayang-bayang
Bagiku.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Aku tahu,
Sia-sialah dambaku
Sia-sialah mimpiku
Sia-sialah hasratku
Sia-sialah harapku.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Walau aku dalam kesia-siaan
Aku tetap mendambamu.
Aku tetap mengharapmu.
Walau aku tahu,
Kau tetap akan menjadi
bayang-bayang keperakkan
yang bersinar terang
sebening kristal
Bagiku.
Yang takkan dapat kuraih.
Yang takkan dapat kujangkau.
Yang takkan dapat kurengkuh.
Tapi tak apa.
Aku hanya ingin kau tahu.
Wahai bayang-bayang keperakkan
Demikian mimpi ini kuungkapkan
Dalam rangkaian kata
Dan aku akan meminjam desah
Serta desiran angin
Untuk membawanya kepadamu
Dalam alam maya
Wahai bayang-bayang keperakkan,
Tangkaplah suratku ini.
Baca dan renungilah.
Karena inilah aku,
Inilah mimpiku,
Tentangmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar