Selasa, 20 Mei 2008

Bayang-bayang Keperakkan

Kepada bayang-bayang keperakkan

Yang muncul dan menghilang

Yang bergerak mengikuti arah cahaya


Wahai bayang-bayang keperakkan

Apakah seseungguhnya kamu?

Tampakkanlah wujud nyatamu padaku.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Yang kadang kelabu dan kelam,

Suram bagai malam.

Seringkali kucari kau

Menyeberang Lautan perih

Mendaki gunungan derita

Namun biasanya sia-sia

Tanpa dapat bersua.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Yang kadang bersinar benderang,

Sebening kristal.

Seringkali kau muncul

Ketika aku menyerah dan tertidur

Ketika ku tenggelam dalam duka

Memacuku untuk bangkit dan berdiri

Kemudian menjalani nasib

Mencoba untuk mencarimu lagi.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Taukah kau,

Akan dambaku?

Akan mimpiku?

Akan hasratku?

Akan harapku?

Untuk bertemu.

Untuk merengkuhmu.

Untuk menyatu denganmu.

Untuk bersamamu.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Aku tahu

Bahwa kau adalah bayang-bayang

Tetap akan menjadi bayang-bayang

Bagiku.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Aku tahu,

Sia-sialah dambaku

Sia-sialah mimpiku

Sia-sialah hasratku

Sia-sialah harapku.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Walau aku dalam kesia-siaan

Aku tetap mendambamu.

Aku tetap mengharapmu.

Walau aku tahu,

Kau tetap akan menjadi

bayang-bayang keperakkan

yang bersinar terang

sebening kristal

Bagiku.

Yang takkan dapat kuraih.

Yang takkan dapat kujangkau.

Yang takkan dapat kurengkuh.

Tapi tak apa.

Aku hanya ingin kau tahu.


Wahai bayang-bayang keperakkan

Demikian mimpi ini kuungkapkan

Dalam rangkaian kata

Dan aku akan meminjam desah

Serta desiran angin

Untuk membawanya kepadamu

Dalam alam maya


Wahai bayang-bayang keperakkan,

Tangkaplah suratku ini.

Baca dan renungilah.

Karena inilah aku,

Inilah mimpiku,

Tentangmu.


Tidak ada komentar: